|
Belajar dari Yusuf Arimatea |
|
Written by Administrator
|
|
Tuesday, 13 April 2010 20:05 |
| Oleh : Bpk. Bambang Eko | GPPS Elim, Sabtu 10 April 2010 |  Lukas 23:50 “Adalah seorang yang bernama Yusuf. Ia anggota Majelis Besar, dan seorang yang baik lagi benar. Lukas 23:51 Ia tidak setuju dengan putusan dan tindakan Majelis itu. Ia berasal dari Arimatea, sebuah kota Yahudi dan ia menanti-nantikan Kerajaan Allah. Lukas 23:52 Ia pergi menghadap Pilatus dan meminta mayat Yesus. Lukas 23:53 Dan sesudah ia menurunkan mayat itu, ia mengapaninya dengan kain lenan, lalu membaringkannya di dalam kubur yang digali di dalam bukit batu, di mana belum pernah dibaringkan mayat. Lukas 23:54 Hari itu adalah hari persiapan dan sabat hampir mulai.” Yusuf adalah seorang anggota majelis besar, ia terpandang, berkedudukan penting, dan ia adalah seorang yang baik lagi benar. Bukan hanya sekedar baik, tapi benar (takut akan Tuhan). Banyak orang baik tapi belum tentu mereka orang benar, tapi seorang yang benar sudah pasti baik pula. Terkadang kita lebih takut akan manusia dari pada akan Tuhan. Lebih sungkan dengan sesama manusia dari pada dengan Tuhan dan lebih mementingkan apa kata orang. Padahal apa yang Tuhan bilang tentang kita justru jauh lebih penting daripada apa kata manusia. Sebenarnya kita tahu kebenaran, tapi kita sering coba coba dengan dosa. Marilah kita belajar dari apa yang Yusuf rela lakukan untuk Tuhan : - Ayat 51b Yusuf hidup di dunia dengan tidak sia- sia, dia menantikan Kerajaan Allah, dia mempunyai fokus hidup yang benar. Matius 27:57 “Menjelang malam datanglah seorang kaya, orang Arimatea, yang bernama Yusuf dan yang telah menjadi murid Yesus juga.” Yusuf ternyata tidak hanya orang yang punya kedudukan penting dan terpandang, tapi dia juga adalah seorang yang kaya. Demikian juga semestinya kita jangan hanya jadi ekor saja, karena Tuhan berjanji setiap kita akan jadi kepala. Anak- anak Tuhan seharusnya adalah anak- anak yang selalu sukses dan makmur. - Ayat 52 Yusuf hidup dengan berani dan punya sikap yang tegas. Demikian juga semestinya kita di hadapan Tuhan harus tegas, jangan plin-plan supaya kita jadi berkat dan bukan jadi batu sandungan. Yusuf memberanikan diri jalan di jalan yang benar (meminta mayat Yesus) dengan tanpa takut dan gentar dan dengan tegak ia tetap melangkah maju. - Ayat 53 Yusuf bekerja keras, berkorban demi pekerjaan Tuhan. Dia mengapani Tuhan Yesus dengan kain lenan (kain mahal), dia berikan yang terbaik untuk Tuhan. Dia tidak memperhitungkan berapapun nilai yang harus dia keluarkan. Markus 15:46 “Yusuf pun membeli kain lenan, kemudian ia menurunkan mayat Yesus dari salib dan mengapaninya dengan kain lenan itu. Lalu ia membaringkan Dia di dalam kubur yang digali di dalam bukit batu. Kemudian digulingkannya sebuah batu ke pintu kubur itu. Demikian semestinya kita dengan Tuhan. Bisakah kita meneladani dari apa yg Yusuf sudah lakukan untuk Tuhan...? Selalu menantikan Tuhan dengan tegas, berani, teguh dan berkorban untuk segala kelancaran pekerjaan Tuhan hingga Tuhan menggenapi janji-Nya untuk datang kembali menjemput kita di awan- awan. Berkaryalah untuk Tuhan secara maksimal sebagai balasan kita atas hal yang luar biasa yang sudah Tuhan lakukan untuk kita yaitu KESELAMATAN KEKAL. Puji Nama Tuhan...Haleluya..! Gb.. | | |
|
|
Last Updated ( Tuesday, 13 April 2010 20:18 )
|