Di dalam kehidupan, kita mengalami hal yang kita sebut pertumbuhan, dari saat kita dilahirkan hingga kita menjadi tua dan beruban. Begitu pula dalam kehidupan keimanan kita, tidak mungkin kita mengingini untuk memiliki iman seperti seorang bayi, kita diharuskan mengalami pertumbuhan iman yang semakin dewasa. Dalam Matius 25:1-9, demikian bunyinya, “Pada waktu itu hal Kerajaan Sorga seumpama sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyongsong mempelai laki-laki…..Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya.”, ayat yang sering kita dengar ini, sangat jelas mengatakan kualitas keimanan kita, apakah kualitas iman kita seperti 5 gadis bodoh, ataukah 5 gadis bijak yang menyediakan minyak dalam buli-buli mereka? Tentulah kalau kita diperhadapkan kepada pertanyaan demikian, tentulah kita akan memilih dan menilai diri kita seperti kelima gadis bijaksana, namun apakah memang seperti demikian kehidupan rohani kita? Adalah pelayanan kita, yang menjadi salah satu ukuran standar kualitas keimanan kita, bukan soal kuantitas kita, seberapa banyak kita melayani, seberapa sering kita datang ke gereja. Karena sebanyak apapun kita melakukannya, bila tidak ada kesungguhan dan kerinduan sebagai kualitas iman, semuanya akan sia-sia. Dalam suatu instansi atau lembaga, kita sering dipaksa untuk meningkatkan kualitas, bukan hanya memperbanyak kuantitas kita, sebagai contohnya, saat kita masih di bangku sekolah, kita diharuskan datang tepat waktu, berprestasi dan lain sebagainya. Begitu pula saat kita bekerja, kita pun tetap diwajibkan datang tepat waktu, melakukan tugas-tugas kita, promosi dan beberapa hal lainnya yang merupakan perwujudan dari kualitas kita. Hal yang demikian pun berlaku di dalam gereja, seperti yang sudah saya katakan tadi, yaitu mengenai pelayanan kita. Mungkin salah satunya kita sering datang terlambat saat tugas pelayanan, ini jelas mencerminkan kualitas iman kita seperti 5 gadis bodoh tersebut, saat Tuhan masih menyediakan waktu bagi kita untuk memperlengkapi iman kita lebih berkualitas di hadapan Tuhan, kita justru santai-santai saja dan seakan-akan tindakan kita berkata,”enjoy aja”. Saat kita bersekolah maupun bekerja, kita pun akan mendapat sebuah hukuman, dan hukuman yang paling berat ialah kita dikeluarkan atau di-PHK, mungkin kita masih diterima oleh instansi atau lembaga lainnya. Nah, kalau Tuhan sudah mem-PHK kita, bagaimana? Di dalam Roma 12:11, tertulis, “Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan.” Jelas sekali ayat ini menegor kita keras sekali. Pertama bahwa kita tidak diperbolehkan untuk santai-santai dalam melayani Tuhan dan banyak sekali yang menganggap masih ada kesempatan lainnya, atau justru meremehkannya, dengan menganggapnya sebagai perkara yang kecil. Bukankah semua yang besar berasal dari yang kecil? Kalau kita membiasakan diri untuk bermalas-malasan, selamanya kita akan seperti itu. Demikian juga jika kita membiarkan api(semangat) kita semakin redup apalagi padam. Kedua, ayat ini menegor kita, bahwa yang kita layani ialah Tuhan, bukan orang yang terlihat oleh kita. Dan apabila kita telah melakukan semuanya, pastilah doa dan segala pengharapan kita akan Tuhan jawab, bahkan yang tak kita pikirkan, semuanya telah disediakan bagi kita. Yang terpenting kita memperbaiki diri kita terlebih dahulu, agar semua pelayanan dan hidup kita menjadi seperti minyak yang kita sediakan dalam buli-buli yang dibawa oleh 5 gadis bijaksana. TUHAN YESUS MEMBERKATI |