“Ketika Yesus memandang sekeliling-Nya dan melihat, bahwa orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya, berkatalah Ia kepada Filipus: "Di manakah kita akan membeli roti, supaya mereka ini dapat makan?" Hal itu dikatakan-Nya untuk mencobai dia, sebab Ia sendiri tahu, apa yang hendak dilakukan-Nya. Jawab Filipus kepada-Nya: "Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja." Seorang dari murid-murid-Nya, yaitu Andreas, saudara Simon Petrus, berkata kepada-Nya: "Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?” (Matius 6:1-13) Ayat ini sudah kita dengar banyak kali, bahkan anak Sekolah Minggu juga mengetahui cerita tentang Tuhan Yesus yang memberi makan lima ribu orang laki-laki, hanya dengan lima roti dan dua ikan. Namun yang akan kita bahas kali ini ialah reaksi manusia terhadap mujizat. Dari ayat Alkitab yang tertulis di atas, Tuhan Yesus menguji hati murid-murid-Nya, sedang Ia sendiri tau apa yang hendak Ia perbuat. Setelah Tuhan Yesus bertanya, Filipus seakan menjawab-Nya dengan berkata “Mustahil”, kebutuhannya terlalu besar. Filipus telah melihat banyak perkara ajaib yang Tuhan perbuat. Namun, Filipus seakan-akan melupakan perkara-perkara mujizat tersebut. Dan ia lebih cenderung melihat kebutuhan yang begitu besar jumlahnya, bukan apa yanng bisa diperbuatnya.Namun Andreas, memiliki pemikiran yang berbeda. "Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?" (ayat 9), seakan-akan Andreas berkata "Kita memang punya, tapi tak sebanding dengan kebutuhan kita." Begitu pula dengan kita, banyak kali kita mengatakan bahwa kebutuhan kita terlalu besar dan kita tidak bisa menjangkaunya. Nah, justru disaat itulah kita perlu mujizat. Ada sebuah statement yang mengatakan, bahwa saat kita mampu mencukupi semua kebutuhan kita, kita tak membutuhkan mujizat. Karena syarat terjadinya mujizat ialah harus ada sebuah kebutuhan besar yang di luar jangkauan kita, maka dari itu kita perlu mujizat (poin ke-1). Dan kebutuhan tersebut, bukan hanya berbicara tentang materi, bisa saja tentang ketidak mampuan kita untuk mengasihi orang lain karena beberapa hal. Nah, dalam hal tersebut juga kita membutuhkan mujizat untuk mengasihi orang yang kita benci. Poin ke-2, apa yang ada pada kita, kita kasih kepada Tuhan. Banyak di antara kita melihat mujizat dari cara pandang yang salah. Kita mengira, bahwa mujizat terjadi karena apa yang orang lain lakukan bagi kita, dan bukan apa yang bisa kita lakukan. "Tetapi Ia berkata kepada mereka: "Berapa banyak roti yang ada padamu? Cobalah periksa!" Sesudah memeriksanya mereka berkata: "Lima roti dan dua ikan." (Markus 6:38). Tuhan tidak pernah menghitung jumlah orang, dan tak ada penghitungan yang pasti mengenai jumlah orang tersebut. Tuhan bertanya seperti ayat di atas untuk mengetahui apa yang ada pada mereka. Karena tak mungkin, mereka apa ada saat itu tak membawa bekal apapun dalam perjalanan. Prinsip yang sama kita jumpai di 2 Raja-raja 4, yang mencertakan seorang janda yang ditinggal mati suaminya, dimana suaminya ialah hamba Tuhan yang meninggalkan banyak hutang. Dan janda tersebut menemui Nabi Elisa, karena penagih hutang akan mengambil anaknya jika janda tersebut tak membayar hutangnya. Nabi Elisa bertanya kepada janda itu, apa yang ada padamu. Dan si janda tersebut mengatakan bahwa ia tak memiliki apapun kecuali buli-buli berisi minyak. Jika saja si janda tersebut tak mengatakan buli-buli tersebut, maka pasti takkan terjadi mujizat. Jadi prinsipnya, harus ada benih yang harus kita beri kepada Tuhan untuk terjadinya sebuah mujizat. Kita telah mendengar berbagai yersi mengenai lima roti dan dua ikan ini, ada yang mengatakan bahwa tak hanya anak kecil tersebut yang membawa bekal itu. Dan apa yang anak kecil itu memang porsi kecil, karena memang seorang anak kecil yang membawanya. Tapi mengapa anak kecil ini saja yang memberikan bekalnya untuk Tuhan jadikan menjadi benih mujizat? Mungkin orang lain yang membawa bekal tersebut berpikir, toh apa gunanya bekalku ini untuk orang sebanyak ini (kira-kira lima ribu orang laki-laki). Tapi anak kecil ini polos, dan tak memiliki pemikiran yang sebegitu rumit, seperti yang kita lakukan. Kita cenderung melihat bukan kepada apa yang kita miliki, tapi apa yang tidak kita miliki. Fokus bukan kepada apa yang tidak kita miliki, tapi apa yang kita milki untuk kita maksimalkan. Ingatkah kita mengenai cerita Tuhan Yesus yang memberi makan empat ribu, saat itu dibutuhkan tujuh roti dan beberapa ikan. Mungkin pertanyaan kita kenapa yang lima ribu orang butuh lima roti dua ikan, tapi empat ribu orang perlu tujuh roti? Tak perlu berpikir rumit, jawabwannya karena memang apa yang ada saat itu segitu, karena seberapa besarnya kebutuhan kita itu tak mempengaruhi Tuhan, KARENA MATEMATIKA TUHAN BUKAN MATEMATIKA KITA. Seberapa banyak dari kita seakan-akan menantang kemampuan matematikan-NYA Tuhan, mungkin kita yang sarjana atau pandai matematika. Sehingga saat kebutuhan besar datang kepada kita, kita pikir apa yang kita punya gak bakalan ngefek meski kita kasih ke Tuhan dan berpikir ini saja loh kurang, kok mau dikasihkan ke TUHAN.kita tidak tau bahwa Tuhan sudah sediakan jauh yang lebih baik bagi kita. |