top
logo
EYE adalah singkatan dari Elim Youth Evershining

EYE Events


EYE Kotbah Gereja
Kotbah Gereja


Ujian Penggenapan Panggilan
Written by Administrator   
Sunday, 22 August 2010 06:31
Oleh : Ev. Ruth Veve

GPPS Elim, Sabtu 21 Agustus 2010

Panggilan terbesar kita ialah saat kita menggenapi apa yang Tuhan tetapkan dalam hidup kita, bukan mengejar apa yang Tuhan tetapkan untuk orang lain. Kita percaya bahwa panggilan yang dari Tuhan itu sangat mulia bagi kita, namun hanya sedikit dari kita yang menggenapi panggilan itu. Ada orang yang berpendapat bahwa sebelum menjadi pendeta, penginjil atau misionaris, berarti belum menggenapi panggilan terbesar dalam hidup mereka. Padahal bukan itu yang sebenarnya.
Untuk belajar lebih lanjut mengenai penggenapan panggilan, mari kita belajar dari Yusuf. Kita tau bahwa Yusuf, pada usia 17 tahun, Yusuf mendapat penglihatan dan pada usia 30 tahun panggilan itu baru tergenapi. Dan selama 13 tahun itu, ia mengalami hal-hal besar yang boleh kita anggap “sukar” namun membawanya kepada panggilan yang Tuhan tetapkan. Ada beberapa hal yang bisa kita petik dari pelajaran ini. Pertama kita akan belajar tentang kerendahan hati.
Ujian Pertama Yusuf (Keangkuhan/Kesombongan):
“Karena katanya kepada mereka: "Coba dengarkan mimpi yang kumimpikan ini: Tampak kita sedang di ladang mengikat berkas-berkas gandum, lalu bangkitlah berkasku dan tegak berdiri; kemudian datanglah berkas-berkas kamu sekalian mengelilingi dan sujud menyembah kepada berkasku itu."
(Kejadian 37:1-11)
Mungkin kita tak menyadari bahwa Yusuf memiliki kesombongan pada dirinya. Namun, meski  ia memiliki kesombongan, Tuhan tak pernah menyesali panggilannya. Begitu pula dengan kita, Tuhan tak pernah menyesali setiap panggilannya dalam diri kita, asal kita mau untuk melunakkan hati kita untuk Tuhan bentuk.
“…Yusuf, tatkala berumur tujuh belas tahun -- jadi masih muda -- biasa menggembalakan kambing domba, bersama-sama dengan saudara-saudaranya, anak-anak Bilha dan Zilpa, kedua isteri ayahnya. Dan Yusuf menyampaikan kepada ayahnya kabar tentang kejahatan saudara-saudaranya” ( Keluaran 37:2)
Yusuf merasa dia lebih baik dari saudara-saudaranya, dan saat ia mengatakan mimpinya tersebut, kesombongannya nampak. Kita tak akan tau seseorang yang sombong hanya dengan cara berjalannya, perilakunya , namun kita mengenal orang yang sombong dari perkataannya yang kita tau berlebihan. Mengapa kesombongan menjadi ujian pertama? Karena kesombongan ialah dosa yang paling besar. Lucifer jatuh dalam dosa, hingga Tuhan mencampakkannya dari surga, karena ia sombong dan ingin menyamai Tuhan, begitu pula dengan Adam dan Hawa di taman Eden. Karena itu Tuhan memberikan suatu mimpi untuk menguji kesombongan Yusuf, yang pada saat itu masih berusia 17 tahun (usia yang masih sangat labil). Perlu kita tau, saat Tuhan menunjukkan panggilan kita, kita tak perlu sesumbar dengan memberitahukannya ke orang lain.
Supaya kita terlepas dari kesombongan:
Dalam menghadapi kesombongan yang kita tau, bahwa kesombongan tidak datang hanya satu kali saja dalam hidup kita, lalu kita menjadi rendah hati (saat kita gagal dalam ujian kesombongan, Tuhan akan memberikan kita ujian sekali lagi supaya kita mampu, meskipun kita telah mampu, Tuhan masih akan memberikan ujian kesombongan dengan level yang berbeda) kita terbiasa menangani kesombongan hanya dengan mencabut buahnya saja, tidak mencabut akarnya. Salah satu faktor yang membuat orang menjadi sombong ialah karena dia “merasa tak aman”, karena takut ditolak, maka ia membual dengan segala cara untuk menutupi kekurangannya agar orang mau menerimanya.
Dalam Matius 4, saat iblis mencobai Tuhan Yesus, setelah Tuhan Yesus berpuasa 40 hari 40 malam, iblis selalu berkata, “Jika Engkau Anak Allah…; jika Engkau Anak Allah…; jika Engkau Anak Allah” dalam hal ini, iblis ingin mencobai Tuhan Yesus dengan kesombongan. Namun, Tuhan Yesus selalu menjawabnya sesuai dengan firman Tuhan. Tuhan Yesus tau, bahwa tanpa Ia mengatakan siapa Dia sesungguhnya, Ia tau, siapa Dia di hadapan Bapa. Dari apa yang Tuhan Yesus lakukan, kita belajar bahwa tak perlu kita mengatakan apa yang bisa kita lakukan, apa yang sudah atau yang akan kita lakukan bagi Tuhan, karena identitas kita bukan dari hal itu. Namun, identitas kita sesungguhnya adalah siapa kita di hadapan Tuhan, dan hal itu menjadi alat yang ampuh untuk memampukan kita lulus dari ujian kesombongan.
Kenalilah Identitas kita, di hadapan Kristus yang akan membuat kita rendah hati!

 
 
« StartPrev12345678910NextEnd »

Page 1 of 39
Facebook Image

bottom

Powered by Joomla!. Designed by: Joomla Theme, php hosting. Valid XHTML and CSS.